27 Apr 2012

Makalah Nifas


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Angka kematian ibu pada masa nifas di Indonesia masih tinggi sekitar 60 % sehingga pencetusan pembuatan program dan kebijakan teknis mengenai jadwal kunjungan masa nifas paling sedikit empat kali dilakukan kunjungan utk menilai status ibu dan bayi baru lahir, juga mencegah, mendeteksi dan menangani masalah – masalah yg terjadi.
Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap wanita yang telah selsai bersalin sampai alat – alat kandungan kembali seperti sebelum hamil lamanya kira – kira 6 – 8 minggu. Akan tetapi alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
Perwatan masa nifas sebenarnya dimulai sebenarnya sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Bila ada perlukaan jalan lahir atau luka bekas episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum.

1.2    Tujuan
1.    Menjelaskan pengertian masa nifas
2.    Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas
3.    Menjelaskan jadwal kunjungan rumah
4.    Menjelaskan asuhan lanjutan masa nifas di rumah
5.     Menjelaskan keuntungan dan keterbatasan kunjungan rumah ibu post partum
6.    Menjelaskan hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan masa nifas






1.3 Manfaat
1.    Mengetahui  pengertian masa nifas
2.    Mengetahui  tujuan asuhan masa nifas
3.    Mengetahui  jadwal kunjungan rumah
4.    Mengetahui  asuhan lanjutan masa nifas di rumah
5.     Mengetahui  keuntungan dan keterbatasan kunjungan rumah ibu post partum
6.    Mengetahui  hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan masa nifas

   


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Masa Nifas
    Masa nifas adalah masa setelah keluarnya plasenta sampai alat-alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal  masa nifas berlangsung selama 6-8minggu atau 40 hari

2.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan asuhan masa nofas antara lain:
    Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh anak
    Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologisnya
    Melaksanakan skrining yang komprehensif, deteksi dini.
    Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi, perawatan bayi sehat.
    memberikan pelayanan KB

2.3 Jadwal Kunjungan Rumah
    Tahapan masa nifas di bagi menjadi 3 yaitu:
•    puerpurium dini : kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
•    Puerpurium intermedial: kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu
•    Remote puerpurium: waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan bahkan tahunan.


Jadwal Kunjungan Ulang
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menlai status ibu dan BBL, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas.
1)    6 – 8 jam setelah perslinan
Tujuannya :
•    Mencegah perdarahan – krn antonia uteri.
•    Mendeteksi perdarahan penyebab lain rujuk bila berdarahan berlanjut.
•    Memberikan konseling ke ibu atau anggota keluarga utk mencegah perdarahan karena antonia uteri.
•    Pemberian ASI awal.
•    Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.
•    Menjaga bayi ttp sehat dan mencegah hipotermi.
2)    6 jam setelah persalinan
Tujuannya  :
•    Memastikan involusi uterus bejalan normal
•    Menilai tanda – tanda demam,infeksi,atau perdarahan abnormal.
•    Memastikan ibu mendptkan cukup makanan, cairan dan istirahat
•    Memastikan ibu dapat menyusui dgn baik tidak ada tanda penyulit.
•    Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pd bayi, tali pusat,mjg bayi tetap hangat dan perawatan bayi sehari – hari.
3)    2-3 minggu setelah persalinan
•    Memastikan involusi uteri berjalan normal, uterus berkontrksi, fundus uteri dibawah umbilicus, tidak ada pendarahan dan tidak berbau.
•    Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau pendarahan abnormal.
•    Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat.
•    Memastikan ibu menyusui bayinya dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit.
•    Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi supaya tetap hangat dan merawat bayi.
4)    Kunjungan ke empat 4-6 minggu setelah persalinan
•    Menanyakan pada ibu tentang penyakit-penyakit yang ibu dan bayi alami.
•    Memberikan konseling KB secara dini.
•    Tali pusat harus tetap kering, ibu diberitahu bahaya membubuhkan sesuatu pada tali pusat bayi, misal minyak atau bahan lain. Jika ada kemerahan pada pusat, pendarahan tercium bau busuk, bayi segera di rujuk.
•    Perhatikan kondisi umum bayi, apakah ada ikterus atau tidak, ikterus pada hari ketiga post partum adalah fisiologis yang tidak perlu pengobatan. Namun bila ikterus terjadi pada hari ketiga atau kapan saja dan bayi malas untuk menetek serta tampak mengantuk maka segera rujuk ke Rumah Sakit.
•    Bicarakan pemberian ASI dengan ibu dan perhatikan apakah bayi menetek dengan baik.
•    Nasehati ibu untuk hanya memberikan ASI kepada bayi selama minimal 4-6 bulan dan bahaya pemberian makanan tambahan selain ASI sebelum usia 4-6 bulan.
•    Catat semuah dengan tepat hal-hal yang diperlukan.
•    Jika ada yang tidak normal segera rujuk ibu dan atau bayi ke puskesmas atau Rumah Sakit.

2.4    Asuhan Lanjutan Masa Nifas Di Rumah
Pelaksanaan Asuhan Nifas
Ibu yang baru pulang dari Rumah Sakit.
•    Keputusan diambil oleh ibu hasil konsultasi dengan Rumah Sakit atau Bidan.
•    Bidan memberikan informasi terinci tentang ringkasan proses persalinan, hasil dan informasi lain yang relevan.
•    Jika perlu mengulangi pada sore hari atau esok hari.

Kunjungan Post Natal rutin
•    Kunjungan rumah sebaiknya dilakukan setiap pagi dan sore selama beberapa hari post partum.
•    Ibu, suami atau keluarganya diajak untuk mendemonstrasikan : cara memandikan bayi, cara membuat susu, cara menyetrika botol, cara mencuci tangan.
•    Jika ibu mengeluh sakit perineum dapat dianjurkan mengompres / cebok dengan air hangat.
•    Saran / nasehat yang diberikan harus realistis dan sesuai keadaan.
•    Berbicara dengan bayi dan bereaksi dengan sabar ketika bayi  menangis.
•    Karena bidan pada waktu mengunjungi tidak lama, maka perlu melibatkan keluarga untuk : memberikan perhatian penuh baik verbal maupun non verbal, siap siaga, memberikan dukungan dalam beradaptasi dalam lingkungan baru.
•    Bidan mengobservasi status mental ibu dan sikap terhadap bayinya, suami serta anak-anak lainnya.
•    Memberikan pengenalan tanda bahaya / masalah yang mungkin di hadapi.
•    Bidan juga perlu mengobservasikan reaksi anggota keluarga lainnya.
•    Siapkan waktu agar ibu dapat mengekspresikan perasaannya, kecemasan terhadap bayinya, anak-anak lainnya dan hubungan antar mereka.
•    Bidan mendengarkan, memberikan dukungan dan dorongan terus menerus serta memberikan dukungan ekstra kepada ibu yang kurang mendapat dukungan dari keluarga.
•    Pada setiap akhir kunjungan, bidan melengkapi catatan termasuk saran-saran yang diberikan, untuk mempermudah asuhan post natal berikutnya.
•    Perencanaan : skrining test untuk mengetahui penyakit metabolisme, yang muncul pada hari ke 6 – ke 14.
•    Sebelum hari ke sepuluh mulai membicarakan tentang KB (metode kontrasepsi) : mendorong ibu untuk berfikir positif tentang rencana kehamilan berikutnya, jika ingin menggunakan pil 2-3 minggu sesudah bersalin ibu dianjurkan ke klinik KB atau jika ingin menggunakan IUD 6 minggu Post Partum.
•    Dengan rilek mendorong suami istri untuk membicarakan awal seksual intercourse, dijelaskan juga : lamanya pengeluaran lochea, kembalinya menstruasi, kesuburan, cara-cara meminimalkan nyeri perenium, perubahan fisik dan psikologi.
Jika ada kelainan atau penyimpangan baik bayi maupun ibunya anjurkan segera ke Rumah Sakit, misalnya : pendarahan post partum, gangguan mental kejang, bayi hipotermia, bila mungkin ibu dan bayi dalam satu ruangan.

2.5    Keuntungan Dan Keterbatasan Kunjungan Rumah Ibu Post Partum
Keuntungan :
•    Dapat melihat dan berinteraksi dgn anggota keluarga di dlm lingkungan yg alami dan aman.
•    Dapat mengkaji kecukupan sumber yg ada dirumah serta keamanan di rumah dan di lingkungan sekitar.
1.    Keterbatasan :
•    Besarnya biaya utk mengunjungi pasien yg jarak jauh
•    Terbatasnya jumlah tenaga bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan.
•    Kekhawatiran ttg keamanan utk mendatangi pasien di daerah tertentu
2.6    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan masa nifas
a.    Mobilisasi
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, lebih-lebih bila persalinan berlangsung lama, karena si ibu harus cukup beristirahat, dimana ia harus tidur terlentang selama 8 jama post partum untuk memcegah perdarahan post partum. Kemudian ia boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk memcegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua telah dapat duduk, hari ketiga telah dapat jalan-jalan dan hari keempat atau kelima boleh pulang. Mobilisasi ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka.
b.    Diet / Makanan
Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, yang mengandung cukup protein, banyak cairan, serta banyak buah-buahan dan sayuran karena si ibu ini mengalami hemokosentrasi.


c.    Buang Air Kecil
Buang air kecil harus secepatnya dilakukan sendiri. Kadang-kadang wanita sulit kencing karena pada persalinan m.sphicter vesica et urethare mengalami tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musc. sphincter ani. Juga oleh karena adanya oedem kandungan kemih yang terjadi selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dengan wanita sulit kencing sebaiknya lakukan kateterisasi, sebab hal ini dapat mengundang terjadinya infeksi. Bila infeksi telah terjadi (urethritis, cystitis, pyelitis), maka pemberian antibiotika sudah pada tempatnya.
d.    Buang Air Besar
Buang air besar harus sudah ada dalam 3-4 hari post partum. Bila ada obstipasi dan timbul berak yang keras, dapat kita lakukan pemberian obat pencahar (laxantia) peroral atau parenterala, atau dilakukan klisma bila masih belum berakhir. Karena jika tidak, feses dapat tertimbun di rektum, dan menimbulkan demam.
e.    Demam
Sesudah bersalin, suhu badan ibu naik ± 0,5 C dari keadaan normal, tapi tidak melebihi 38 C. Dan sesudah 12 jam pertama suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 C/ mungkin telah ada infeksi.
f.    Mules-mules
Hal ini timbul akibat kontraksi uterus dan biasanya lebih terasa sedang menyusui. Hal ini dialami selama 2-3 hari sesudah bersalin. Perasaan sakit ini juga timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, plasenta atau gumpalan dari di cavum uteri. Bila si ibu sangat mengeluh, dapat diberikan analgetik atau sedativa supaya ia dapat beristirahat tidur.
g.    Laktasi
h.    Jam sesudah persalinan si ibu disuruh mencoba menyusui bayinya untuk merangsang timbulnya laktasi, kecuali ada kontraindikasi untuk menyusui bayinya, misalnya: menderita thypus abdominalis, tuberkulosis aktif, thyrotoxicosis,DM berat, psikosi atau puting susu tertarik ke dalam, leprae.
Atau kelainan pada bayinya sendiri misalnya pada bayi sumbing (labiognato palatoschizis) sehingga ia tidak dapat menyusu oleh karena tidak dapat menghisap, minuman harus diberikan melalui sonde

















BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).
Jadi, kita sebagai tenaga kesehatan ( bidan) mempunyai peran dan tanggung jawab dalam masa nifas yaitu mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan, memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenai tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktikan kebersihan yang aman, menganjurkan untuk kunjungan ulang selama masa nifas, memulai dan mendorong pemberian ASI eklusif












Daftar Pustaka
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Eny dan Diah, 2008, Asuhan Kebidanan Nifas,Penerbit: Nuha Medika, Jogjakarta.

0 comments:

Poskan Komentar