2 Mei 2012

Sejarah Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Pendidikan Kebidanan internasional

BAB II
PEMBAHASAN
 Sejarah Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Pendidikan Kebidanan internasional

Sebelum abad 20(1700 – 1900)
William Smellie dari Scotlandia (1677-1763) mengembangkan forceps dengan kurva pelvik seperti kurva shepalik. Dia memperkenalkan cara pengukuran konjungata diagonalis dalam pelvi metri. Menggambarkan metodenya tentang persalinan lahirnya kepala pada presentasi bokong dan penganangan resusitasi bayi aspiksi dengan pemompaan paru-paru melalui sebuah metal kateler.
       Ignoz Phillip semmelweis, seorang dokter dari Hungaria (1818 – 1865) pengenalan Semmelweiss tentang cuci tangan yang bersih mengacu pada pengendalian sepsis puerperium.
James Young simpson dair Edenburgh, scotlandia (1811-1870) memperkenalkan dan menggunakan arastesi umum, tahun 1807, Ergot sejenis cendawan yang tumbuh pada sejenis gandung hitam, diketahui efektif dalam mengatasi pendarahan postpartum. Hal ini merupakan permulaan pengguguran.
       Tahun 1824 James Blundell dari Inggris yang menjadi orang pertama yang berhasil menangani perdarahan postpartum dengan menggunakan transfusi darah.
Jean lubumean dari Perancis (orang kepercayaan Rene Laenec, penemu Stetoskop pada tahun 1819) pertama kali mendengar bunyi jantung janin dengan stetoskop pada tahun 1920.
        Jhon Charles Weaven dari Inggris (1811 – 1859) adalah. Pada tahun 1843, pertama yang yang melakukan test urine pada wanita hamil untuk pemeriksaan dan menghubungkan kehadirannya dengan eklamsia.
       Adolf Pinard dari Prancis (1844-1934) pada tahun 1878, mengumumkan kerjanya pada palpasi abdominal
      Carl Crede dari Jerman (1819 – 1892) menggambarkan metodanya stimulasi urine yang lembut dan lentur untuk mengeluarkan placenta
       Juduig Bandl, dokter obstetri dari Jerman (1842 – 1992), pada thaun 1875, menggambarkan lingkaran retraksi yang pasti muncul pada pertemuan segment atas rahim dan segmen bawah rahim dalam persalinan macet/sulit.
       Daunce dari Bordeauz. Pada tahun 1857, memperkenalkan pengguran inkubator dalam perawatan bayi prematur.




                                                        

       Postnatal care sejak munculnya hospitalisasi untuk persalinan telah berubah dari perpanjangan masa rawatan sampai 10 hari, ke trend “Modern” ambulasi diri. Yang pada kenyataannya, suatu pengembalian pada “cara yang lebih alami”.
 Selama beberapa tahun, pemisahan ibu dan bayi merupakan praktek yang dapat diterima di banyak rumah sakit, dan alat menyusui bayi buatan menjadi dapat diterima, dan bahkan oleh norma! Bagaimanapun, alami sekali lagi “membuktikan dirinya “rooing-in” dipraktekan dan menyusui dipromosikan menyusui disemua rumah sakit yang sudah mendapat penerangan
       Perkembangan teknologi yang cepat telah monitoring anthepartum dan intrapartum yang tepat menjadi mungkin dengan pengguraan ultrasonografi dan cardiotocografi, dan telah merubah prognosis bagi bayi prematur secara dramatis ketika dirawat di neonatal intersive acara urits, hal ini juga memungkinkan perkembangan yang menakjubkan

2.1.      Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara New   Zealand
    New Zealand telah mempunyai peraturan tentang cara kerja kebidanan sejak tahun 1904, tetapi lebih dari 100 tahun yang lalu, lingkup praktik bidan telah berubah secara berarti sebagai hasil dari meningkatnya sistem perumahsakitan dan pengobatan atau pertolongan dalam kelahiran. Karena adanya otonomi bagi pekerja yang bergerak dalam prakteknya dengan lingkup praktek yang penuh di awal tahun 1900, secara perlahan bidan menjadi ‘asisten’ dokter. Bidan bekerja di masyarakat di mulai dengan bekerja di rumah sakit dalam area tertentu, seperti klinik antenatal, ruang bersalin dan ruang nifas, kehamilan dan persalinan menjadi terpisah menjadi khusus dan tersendiri secara keseluruhan. Dalam proses ini, bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiripun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut. Di samping itu bidan menjadi berpengalaman memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang lebih tepat untuk memberikannya.
              Model di atas ditujukan untuk memberikan pelayanan pada maternal dan untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan janin hal ini berlangsung pada tahun 1920 sampai dengan tahun 1980 dimana yang memberlakukan model tersebut adalah negara-negara barat seperti New Zealand. Tetapi strategi seperti itu tidak mencapai kesuksesan.
             Di New Zealand, para wanitalah yang melawan model asuh persalinan tersebut dan menginginkan kembalinya bidan ‘tradisional’ yaitu seseorang yang berpengalaman dari mulainya kehamilan sampai dengan enam minggu setelah persalinan. Mereka menginginkan bidan yang bekerja dipercaya kemampuannya untuk menolong persalinan tanpa intervensi dan memberikan dukungan bahwa persalinan adalah peristiwa yang normal .
          

                                                        
Wanita-wanita New Zealand menginginkan untuk mengambil alih kembali kontrol dalam persalinan mereka dan menempatkan diri mereka di tempat yang tepat sebagai pusat kontrol di dalam memilih apa yang berkenaan dengan diri mereka.
     Pada era 80-an, bidan bekerjasama dengan para wanita untuk menegaskan kembali otonomi bidan dan bersama-sama sebagai partner mereka telah membawa kebijakan politik yang diperkuat dengan legalisasi tentang prfoesionalisme praktek bidan.
 Sebagian besar bidan di New Zealand mulai memilih untuk bekerja secara mandiri dengan tanggungjawab penuh kepada klien dan asuhannya dalam lingkup yang normal. Lebih dari 10 tahun yang lalu, pelayanan maternitas telah berubah secara dramatis. Saat ini, 86% wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas, dan asuhan berkelanjutan pada persalinan dapat dilakukan di rumah ibu. Sekarang, di samping dokter, 63% wanita memilih bidan sebagai satu-satunya perawat maternitas, dalam hal ini terus meningkat. Ada suatu keinginan dari para wanita agar dirinya menjadi pusat pelayanan maternitas. Di rumah sakit pun memberikan pelayanan bagi yang menginginkan tenaga kesehatan profesional yaitu pusat pelayanan maternitas.
             Model kebidanan yang digunakan di New Zealand adalah partnership antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, dan wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan diri dan keluarganya, serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan. Pada awal kehamilan, anatara bidan dan wanita harus saling mengenal dan menumbuhkan rasa saling percaya di antara keduanya. Dasar dari model partnership adalah komunikasi dan negosiasi.
             Di New Zealand, bidan harus dapat membangun hubungan partnership dengan wanita yang menjadi kliennya, disamping bidan harus mempunyai kemampuan yang profesional.
2.2.      Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara Thailand

Pendidikan
        Pendidikan bidan di Thailand dilakukan selama 3 tahun dibawah pengawasan ahli kandungan. Perkuliahan termasuk anatomi fisiologi dan patologi dari kehamilan dan sebagainya. Nampaknya tidak ada ruangan untuk kegiatan organisasi siswa dan nampaknya tidak dianggap penting, dan dapat terlihat bahwa mereka lebih difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.
Pelayanan Antenatal
        Pada awalnya, pelayanan antenatal di Thailand dilakukan oleh dokter dengan beberapa perawat atau bidan yang melakukan tugas rutin yang cukup berat, pemeriksaan urine dan sebagai asisten dokter.



                                                         4  
Di beberapa area pedesaan bidan lebih terlibat dalam pelayanan antenatal. Angka kematian ibu bervariasi, tetapi biasanya lebih tinggi di area pedesaan dimana akses    untuk mendapatkan pelayanan sulit.difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.Ibu mengunjungi klinik secara rutin setiap bulan pada umur kehamilan 12-20 minggu pada kehamilan 32-40 minggu. Pemeriksaan urine rutin, tekanan darah dan berat badan dilakukan pada setiap kunjungan.

Pelayanan Intrapartum
            Di Thailand , beberapa persalinan terjadi di rumah, namun menurut laporan rumah sakit ada sekitar 51 bayi yang lahir di rumah sebelum ambulan datang. Pada saat masuk ke rumah sakit diikuti dengan berbagai peraturan, seorang ibu yang akan bersalin tidak dianamnesa lagi tentang statusnya dan apa yang terjadi pada dirinya. Suami tidak diperkenankan untuk menemani isterinya sampai 7 hari setelah kelahiran bayi. Di beberapa daerah hal ini tidak dilakukan, di daerah ini justru beranggapan bahwa ibu harus di support selama persalinan oleh suami. Banyak dokter yang tidak yakin akan hal ini, namun sebagian lagi sudah mau mendiskusikannya dan perubahan pola asuhan kebidanan lainnya.
             Kegiatan rutin pada saat masuk rumah sait adalah dengan cara mengoleskan jari tangan dan kaki dengan iodine 2% dan juga putting susu dengan Gentian Violet. Hal ini dilakukan untuk pencegahan infeksi di unit tertentu, yang juga merupakan salah satu enema dilakukan karena keharusan. Ruang bersalinnya juga sangat tidak ranmah dan dingin, menghadap koridor sehingga dapat dilihat oleh orang yang berlalulalang, toiletnya terbuka dan sangat tidak provacy.
           Persalinan dilakukan di meja persalinan dengan sikap litotomi. Nampaknya tidak ada upaya untuk memberikan penjelasan kepada ibu mengenai apa yang sedang terjadi. Bayi diberikan tetesan Prophylatic Albusid pada matanya sebelum diamati secara singkat dan berlangsung di bungkus, kemudaian dibawa ke ruangan khusus yang jauh dari ibunya. Sementara itu ibu diberi kompres es diperutnya untuk mencegah perdarahan postpartum dan menunggu di koridor selama 2 jam sebelkum dipindahkan ke ruangan postpartum.
           Bidan adalah asisten pertama dokter dan bertanggung jawab untuk melakukan observasi rutin. Bidan lebih banyak bekerja pada rumah sakit yang menitikberatkan pada asuhan dan persalinan normal.

2.3.     Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara Singapura
Para peneliti di singapura menemukan bahwa wanita hamil menerima sejumlah besar perhatian dari supervisor mereka, masyarakat, dan pekerja kesehatan setempat. Mereka yang bekerja di ladang tidak diizinkan untuk bekerja setelah minggu ke-28 mereka hamil .

                                                          5
Setelah anak itu lahir, ibu bisa meninggalkan anak mereka di sebuah pusat penitipan anak, meskipun mereka biasanya ditinggal di rumah untuk diurus oleh neneknya.
Mereka yang bekerja di pabrik-pabrik menerima cek up di tempat kerja, diizinkan jam kerja lebih sedikit, dan ketika anak mereka lahir, penitipan diberikan dengan jam untuk menyusui.
Menyusui adalah praktek umum dengan buruh pabrik, dan petani mampu untuk mengambil setiap beberapa jam off untuk memberi makan anak mereka.Banyak perempuan selama bulan pertama kehamilan mengunjungi bidan setempat, untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan membangun hubungan yang nyaman. Setiap bulan setelah, bidan akan mengambil tekanan darah untuk memeriksa toksemia .
Bagi mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, di rumah pekerja kesehatan adalah orang yang diberikan tes kehamilan biologis. Hal ini karena setiap pekerja perempuan harus mengisi kartu menstruasi dan itu adalah tanggung jawab pekerja kesehatan untuk diperhatikan ketika beberapa hari telah terjawab
Selama tahun-tahun awal sebelum Sekolah Perawat, perawat pria dilatih di misi merawat orang sakit. Para siswa Perawatan dilatih di Stasiun Kesehatan Khusus untuk menambah pengalaman dari kesehatan masyarakat. Para pasien wanita di Stasiun Kesehatan Khusus, yang dirawat oleh anggota keluarga atau Amah terlatih. Itu tidak diperbolehkan untuk laki-laki yang tidak terkait untuk menangani tubuh seorang wanita karena constrictions social.Penekanan pada kesehatan masyarakat merupakan langkah besar dalam penyebaran nilai kebersihan pribadi dan sanitasi. Bidan juga mampu memberikan kontrol yang membantu kelahiran.
Program pertama diciptakan untuk berurusan dengan kebutuhan ibu dan anak didirikan oleh Marian Young. Dia adalah bagian dari program percontohan John B. Grant 'untuk mempromosikan kesehatan masyarakat untuk Peking Union Medical College.Muda survei dilakukan untuk menguji tingkat kematian dari kedua ibu dan anak-anak mereka.Angka kematian ibu lebih tinggi di Singapura. 17,6 dari 1000 ibu meninggal, terutama dari infeksi nifas. Angka ini rendah dibandingkan dengan kematian anak-anak, yang diklaim 275 dari 1000 bayi, biasanya dari neonatourm tetanus. Young percaya angka ini yang tinggi karena kurangnya pendidikan bidan. Pada tahun 1929, hanya ada sekitar 500 bidan terlatih di seluruh wilayah singapura , memaksa mayoritas warga negara untuk percaya dalam perawatan dari 200.000 tanpa pelatihan formal.  Ini bidan terlatih berlari risiko gagal melihat tanda-tanda infeksi atau penyakit , praktik sterilisasi yang tidak benar, dan kurangnya pelatihan sanitasi. Juga, mereka tidak terlatih dalam teknik melahirkan yang tepat.Ditemukan bahwa banyak bidan terlatih akan memotong tali pusat dengan benda tajam mereka kebetulan menemukan berbaring sekitar, dalam beberapa kasus gigi digunakan.


                                                          6
Pendarahan dari kabelnya akan dihentikan dengan kotoran atau lap.Tidak ada pendidikan tentang pentingnya sterilisasi dan kebersihan. Kadang-kadang, jika seorang wanita mengalami kesulitan menyampaikan, bidan terlatih akan menggunakan kait atau penjepit untuk membantu menciptakan traksi pada bayi.

Pada tahun 1929 Young membuka Sekolah Bidan, untuk studi di kebidanan. Dia perawat terlatih dari Peking Union Medical College dan bidan terlatih yang ada.
Pada akhir kursus, dia memberi setiap bidan keranjang barang yang akan membantu mereka menerapkan tindakan yang benar sambil membantu kelahiran. Ini merupakan langkah penting dalam kesehatan masyarakat perempuan.
Dengan bidan terlatih, akan ada sedikit peluang dengan menggunakan prosedur yang salah, dan standar prosedur sanitasi dan steril .Medis dan keperawatan mahasiswa bukan satu-satunya untuk belajar tentang kebersihan dan sanitasi.Juga termasuk adalah bahan untuk meyakinkan remaja untuk menikah di kemudian hari, dan untuk fokus awalnya pada karier mereka. Ketika mereka inginkan sebuah keluarga, disarankan bahwa itu adalah tetap untuk 1-2 anak.
Ini menyebar pendidikan dari daerah pedesaan ke perkotaan, bersama dengan banyak dokter dan perawat.Daerah pedesaan yang paling sulit untuk dicapai, karena mereka yang berakar jauh dalam tradisi.Para petani dan pekerja pedesaan lainnya percaya berat dalam pengobatan tradisional . adanya kebijakan baru mencoba untuk menggabungkan teknik kesehatan barat untuk membantu lebih berkonsentrasi pada kesehatan perempuan.

















                                                       7
BAB III
Kelebihan dan Kekurangan
3.1.     Kelebihan dan kekurangan system pelayanan bidan di Negara New Zelaend
System pelayanan kebidanan di Negara New Zeland pun tentunya memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan,
Kelebihannya mereka mampu memperbaiki kualitas pelayanan kebidanan secara baik seiring dengan berjalannya waktu yaitu:
•    wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas, dan asuhan berkelanjutan pada persalinan dapat dilakukan di rumah ibu
•    Model kebidanan yang digunakan di New Zealand adalah partnership antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, dan wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan diri dan keluarganya, serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan.
Sehingga sebelum melakukuan pelayanan bidan dan wanita harus saling mengenal agar bisa menumbuhkan rasa kepercayaan diantara keduanya.
Kekurangannya program yang sebelumnya dilakukan oleh bidan maupun tenaga kesehatan yang lainnya  seperti:
•    bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiripun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut
•    bidan jadi memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang lebih tepat untuk memberikannya

3.2.    Kelebihan dan Kekurangan system pelayanan bidan di Negara Thailand
Kelebihan dari pelayanan kebidanan di Negara Thailand adalah :
•    Bidan sangat bertanggung jawab penuh mengenai pola asuhan anak.
•    Bidan mempunyai pandangan bahwa persalinan adalah sesuatu yang normal.
Kekurangannya adalah :
•    Persalinan dilakukan di meja persalinan dengan sikap litotomi. Nampaknya tidak ada upaya untuk memberikan penjelasan kepada ibu mengenai apa yang sedang terjadi.
•     Bidan difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.


         8
•    Ruang bersalinnya juga sangat tidak ranmah dan dingin, menghadap koridor sehingga dapat dilihat oleh orang yang berlalulalang, toiletnya terbuka dan sangat tidakprivacy

3.3.     Kelebihan dan Kekurangan system pelayanan bidan di Negara Singapura
 Kelebihan pelayanan bidan di Negara singapura adalah :
•    Setiap bulan setelah, bidan akan mengambil tekanan darah untuk memeriksa toksemia
•    Bidan juga mampu memberikan kontrol yang membantu kelahiran
   Kekurangannya :
•    memaksa mayoritas warga negara untuk percaya dalam perawatan tanpa pelatihan formal
•    bidan yang belum terlatih berlari risiko gagal melihat tanda-tanda infeksi atau penyakit
•    mereka juga tidak terlatih dalam teknik melahirkan yang tepat
•    Tidak ada pendidikan tentang pentingnya sterilisasi dan kebersihan













                                                        9
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan yakni sejarah perkembangan di masing-masing negara jelas memiliki perbedaan. Baik itu dalam perkembangan pelayanan, maupun pendidikan kebidanannya.
Dengan demikian, uaraian-uraian di atas dapat dijadikan pembanding dan dapat kita tela’ah mengenai hal positif dan negatif dari perbedaan tersebut.
Namun , sesuai perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih setiap Negara di atas  pun ikut meningkatkan pelayanan kebidanan kearah yang lebih baik guna mencapai suatu hasil yang diinginkan oleh semua pihak yang pastinya hasil yang memuaskan dan membahagiakan. Hal tersebut dapat dibantu dengan segala teknologi kesehatan yang sudah maju sampai sekarang ini .













                                               10
DAFTAR PUSTAKA

http://mamah-alvito.blogspot.com/2009/01/sejarah-kebidanan.html
    http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/02/profesi-bidan-di-indonesia/
    http://www.bidanindonesia.org/index.asp?part=14?=en
    http://retter13megapixel.multiply.com/journal/item/25/Sejarah_Pendidikan...
     

0 comments:

Poskan Komentar