4 Mei 2012

Hukum Menghormat Bendera


Hukum Menghormat Bendera
Tanggal: 20 Maret 2012 | Kategori: Istifta

PERTANYAAN: Hukum memasang dan menghormat bendera RI Khususnya dilingkungan  Pesantren Persis? Dian Kota Banjar

Sebelum membahas kedudukan menghormat bendera, baiklah akan disampaikan terlebih dahulu mengenai beberapa ayat-ayat, hadis-hadis, dan kaidah-kaidah yang mu,tabar di kalangan para ulama mengenai batasan syirik (meyekutukan Allah swt.)

Allah swt. Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ...

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama dengan lurus. (Al-Quran, surat Al-Bayyinah ayat 5)

وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا

Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pahala akhirat itu kepadanya. (Al-Quran, surat Ali Imran ayat 145)



Kedua ayat ini menerangkan bahwa hamba Allah harus memurnikan segala ibadahnya hanya karena Allah swt. dan hanya kepada-Nya. Artinya haram bagi hamba Allah swt. Untuk mengibadahi selain-Nya. Pahala Allah swt. hanya akan diberikan kepada hamba-hambanya yang benar-benar memahami dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya makna dari mengharapkan kehidupan akhirat. Maknanya mengharap rida, pahala, dan serga dari Allah swt.

Oleh karena itu setiap ibadah harus didasari oleh niat yang ikhlas, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw. Dalam hadis berikut :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niyatnya dan bagi seseorang itu hanyalah akan memperoleh apa yang diniyatkannya. Maka barang siapa (niyat) hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau karena perempuan yang hendak dikawininya, maka (pahala) hijrahnya sesuai dengan niyat untuk apa dia hijrah. (Al-Bukhori, Kitab Bad-il Wahyi)

Berpedoman kepada ayat Al-Quran dan hadis Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama (di antaranya) tersebut di atas, ‘Ulama menetepkan kaidah :

اَلأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا

Segala sesuatu (perbuatan) tergantung pada tujuannya. (Al-Asybah wa Al-Nazhooir hal 16)

Pengertiannya: Setiap amal perbuatan, baik dalam hubungan dengan Allah swt. maupun dengan sesama makhluq, nilainya ditentukan ole niyat serta tujuan dilakukannya.

Selanjutnya terdapat satu kaidah yang juga disepakati oleh ulama mengenai batasan syirik, yakni

Engkau meyakini pada sebagian makhluk ada kekuatan gaib di balik kekuatan biasa (ilmiyah)



Adapun di dalam urusan ta’bbudi (ibadah mahdhah), selain niatb tentu harus memenuhi rukun dan syarat. Sehingga menentukan sah dan tidak sahnya suat ibadah haruslah diukur dengan dalil-dalil dari Al quran dan As-Sunah. Sedangkan dalam urusan muamalah pada asalnya memilki hokum mubah/boleh/halal. Kecuali apabila didapatkan dalil dari Alquran dan As-Sunah yang meharamkannya.

Niyat, di samping sebagai alat penilai perbuatan, juga dapat merupakan ibadah tersendiri, seperti yang dapat dipaham dari hadis Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama:

نِيَّةُ الْمُؤمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ (الحديث)

Niyat seseorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya (tanpa niyat).

(riwayat Al-At-Thabrani dari Sahal bin Sa’ad, Al-Mu’jam Al-Kabir, 6:185 no. 5942. Abu Nu’aim, Hilyatul Auliyaa wa Thabaqootul Ashfiya, 3:255).

Memperhatikan Pertanyaan, tentu yang menjadi permasalahan pokok bukan menghormat bendera atau memasang bendera, karena pekerjaan itu hanya “Taabi” (pekerjaan yang mengikuti). Dan Taabi’ hukumnya akan mengikuti hokum yang diikuti yang pokok. Oleh karena itu pula, boleh atau tidaknya serta haram atau halalnya menghormat bendera harus dilihat dari mengapa menghornat bendera dan apa yang menjadi permasalahan pokoknya.

Menghormat bendera itu dengan makud menghormatinya sebagai lambang supremasi Negara republik Indonesia. Adanya bentuk-bentuk kerajaan, kekaisaran, dan berkembang munculnya republic, dan lain-lain pada masa Rasulullah saw. Tidak menghapuskannya. Oleh karena itu betuk-bentuk Negara merupakan urusan keduaniaan. Dengan demikian menghormat bendera sebagai lambang dan berdaulatnya suatu suatu Negara hukumnya mubah.

Allah swt. Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 29).

Dan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallama besabda:

إِنَّ اللهَ حَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَفَرَضَ لَكُمْ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَتَرَكَ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَكِنْ رَحْمَةٌ مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا وَلاَ تَبْحَثُوا فِيْهَا.

Sesungguhnya Allah swt. telah membuat batas-batas maka kalian jangan melampauinya. Allah swt. telah mewajibkan beberapa kewajiban bagi kamu, maka janganlah kalian mengabaikannya. Dan Allah swt. telah mengharamkan beberapa perkara, maka kalian jangan melanggarnya. Dan Allah swt. telah membiarkan beberapa perkara, itu bukan karena lupa-Nya, melainkan rahmat daripada-Nya, maka terimalah dan kalian jangan membahasnya. (Riwayat Al-Hakim dari Abu Tsa’labah AL-Khosyaniy, Al-Mustadrok, 5:43 no. 7266)

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنِ الْجُبْنِ، وَالسَّمْنِ، وَالْفِرَاءِ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : الْحَلالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَقَدْ عَفَا عَنْهُ.

Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallama ditaya tentang keju, mentega dan keledai liar. Maka Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Yang halal itu apa-apa yang Allah swt. halalkan dalam Al-Quran dan yang haram itu apa-apa yang Allah swt. haramkan dalam Al-Quran. Dan apa-apa yang didiamkan oleh Allah swt. maka Allah swt. memaafkannya.” (Riwayat At-At-Thabrani. Al-Mu’jam Al-Kabir, 6:261 no. 6159)

Berdasarkan keterangan tersebut di atas (di antaranya), Ulama menyatakan:

اَلأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ، حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِِيْمِ

Hukum yang pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkan. (Al-Asybah wa Al-Nazhair hal. 82-83)



Pada masa Rasulullah saw. Pernah dialami oleh para sahabat Rasulullah saw. Bahwa ada di antara pasukan perangnya yang diperintah untuk membawa bendera dan diperintahkan untuk dipertahankan dalam genggaman. Bahkan ketika petugas pembawa bendera pertama terbunuh, maka sahabat lainnya dengan sigap mengambilnya dan kembali mengibarkanya. Tentu pekerjaan sahabat Nabi saw. ini bukan sedang mengibadahi bendera tetapi menempatkannya sebagai suatu lambang.

Akan tetapi apabila dikultuskan atau disakralkan dengan keyakinan bahwa bendera itu memiliki kekuatan gaib dibalik kekuatan bendera sebagai lazimnya. Sebagaimana memberhalakannya orang-orang para penyembah berhala, tentu termasuk syirik. Oleh karena itu menghormat bendera merupakan urusan keduniaan yang hukumnya mubah. Oleh karena itu bukanlah hal yang mustahil apabila suatu Negara mengganti bendera. Jadi, masalah bendera ini jelas merupakan masalah keduniaan, bahkan pada klub-klub sepak bola dan lain-lain memiliki hal itu. (Ustadz Wawan Shofwan,Anggota Dewan Hisbah dan juga Ketua Bidang Dakwah PP Persis).

Sumber : http://www.persatuanislam.or.id

0 comments:

Poskan Komentar