AL QUR'AN

"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155)

NURSING

Kemampuan seorang perawat dalam pemberian terapi pengobatan pada pasien ternyata tak kalah dengan dokter. Hal tersebut tentu sangat bermanfaat, terutama dalam kondisi keterbatasan tenaga dokter.

BISNIS KAOS

Kami melayani pemesanan kaos couple, kelas, angkatan, ataupun komunitas. , Harga cuman 60 ribu/Kaos, Pemesanan bisa sms 085721265252 FB : http://www.facebook.com/pages/Bisnis-Kaos/318312428215504 e-mail : the_slettinkdoll@yahoo.co.id.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kebidanan. Tampilkan semua postingan

2 Mei 2012

FORMAT PEMERIKSAAN FISIK ( PHYSICAL ASSESSMENT )

FORMAT  PEMERIKSAAN  FISIK ( PHYSICAL ASSESSMENT )

FORMAT PEMERIKSAAN FISIK
( PHYSICAL ASSESSMENT )

BIODATA PASIEN

1. Nama                                 :..........................................................................................
2. Umur                                  :..........................................................................................
3. Jenis Kelamin                  :..........................................................................................
4. No. Register                      : .........................................................................................
5. Alamat                               : .........................................................................................
6. Status                                : .........................................................................................
5. Kekuarga terdekat           : .........................................................................................
6. Diaqnosa Medis               : .........................................................................................

1. ANAMNESE

A. Keluhan Utama ( Alasan MRS ) :
Saat Masuk Rumah Sakit  : .........................................................................................
Saat Pengkajian                  : .........................................................................................

B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Kronologis dari penyakit yang diderita saat ini mulai awal hingga di bawa ke RS secara lengkap meliputi( PQRST ) :
a. P = Provoking atau Paliatif        : …………………………………………………………
b. Q = Quality                                    : ………………………..............................................
c. R = Regio                                      : …………………………...........................................
d. S = Severity                                  : …………………………………………………………
e. T = Time                                         : ………………………………………………………..

C. Riwayat Penyakit Yang Lalu :
…………………………………………………………………………………………………..

D. Riwayat Kesehatan Keluarga :
.......................................................................................................................................

2. POLA PEMELIHARAAN KESEHATAN

a. Pola Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi :
No Pemenuhan Makan/Minum Di Rumah Di Rumah Sakit

1. Jumlah / Waktu Pagi         : ……………………………………………………………….
Siang                            : ……………………………………………………………
Malam: ……….. Pagi             : …………………………………………………………
Siang : ……………..
Malam : …………….

2.Jenis Nasi    : ……………………………………………………………………….
Lauk                  : ……………………………………………………………………….
Sayur                : ……………………………………………………………………….
Minum : ……… Nasi : ..........................
Lauk : .........................
Sayur : .......................
Minum/ Infus : .........

3 Pantangan
4 Kesulitan Makan / Minum
5 Usaha-usaha mengatasi masalah

b. Pola Eliminasi

No Pemenuhan
Eliminasi BAB /BAK Di Rumah Di Rumah Sakit
1. Jumlah / Waktu Pagi : …….

Siang : ……
Malam : … Pagi : ……………..
Siang : …………
Malam : ……….
2. Warna 
3. Bau 
4. Konsistensi 
5. Masalah Eliminasi 
6. Cara Mengatasi Masalah 

c. Pola istirahat tidur

No Pemenuhan Istirahat Tidur Di Rumah Di Rumah Sakit

1.Jumlah / Waktu Pagi : ………..

Siang : ………
Malam : ……… Pagi : …………..
Siang : ……….
Malam : ……….

2 Gangguan Tidur
3 Upaya Mengatasi Gangguan tidur
4 Hal Yang Memper-mudah Tidur
5 Hal Yang Memper-mudah bangun

d. Pola kebersihan diri / Personal Hygiene :

No Pemenuhan Personal 
Hygiene Di Rumah Di Rumah Sakit
     1 Frekuensi Mencuci Rambut
2 Frekuensi Mandi
3 Frekuensi Gosok Gigi
4 Keadaan Kuku 

E. Aktivitas Lain
No Aktivitas Yang Dilakukan Di Rumah Di Rumah Sakit\

F. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

a. Latar belakang social, budaya dan spiritual klien
Kegiatan kemasyarakatan                                             :…………………………………
Konflik social yang dialami klien                                 :...............................................
Ketaatan klien dalam menjalankan agamanya         :..............................................
Teman dekat yang senantiasa siap membantu        :...............................................

b. Ekonomi
Siapa yang membiayai perawatan klien selama dirawat :
………………………………………………………………………………………………….
Apakah ada masalah keuangan dan bagaimana mengatasinya :
………………………………………………………………………………………………….

3. PEMERIKSAAN FISIK

A. PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL

a. Tensi          : …………………………………………………………………………………
b. Nadi           : …………………………………………………………………………………
c. RR              : …………………………………………………………………………………
d. Suhu          : …………………………………………………………………………………
e. BB              :………………………………………………………………………………….
f. TB                : …………………………………………………………………………………
g. Setelah dihitung berdasa rumus Borbowith
h. Pasien termasuk             : (Kurus/Ideal/Gemuk)

B. KEADAAN UMUM
…………………………………………………………………………………………………..

C. PEMERIKSAAN INTEGUMENT, RAMBUT DAN KUKU

1. Integument
Inspeksi                : Adakah lesi ( + / - ), Jaringan parut ( + / - )
Warna Kulit          : ………
Bila ada luka bakar lokasi: ............., dengan luas : ................ %
Palpasi                  : Tekstur (halus/ kasar ), Turgor / Kelenturan ( baik / jelek ), Struktur (keriput /tegang ), Lemak subcutan ( tebal / tipis ),Nyeri tekan ( + / - ) pada daerah.........................................

Identifikasi luka / lesi pada kulit
1. Tipe Primer
Makula ( + / - ), Papula ( + / - ) Nodule ( + / - ) Vesikula ( + / - )
2. Tipe Sekunder
Pustula ( + / - ), Ulkus ( + / - ), Crusta ( + / - ), Exsoriasi
( + / - ), Sear (+/-), Lichenifikasi ( + / - )
Kelainan- kelainan pada kulit :
Naevus Pigmentosus ( + / - ), Hiperpigmentasi ( + / - ),
Vitiligo/Hipopigmentasi ( + / - ), Tatto ( + / - ),
Haemangioma ( + / - ), Angioma/toh ( + / - ), Spider
Naevi ( + / - ), Strie ( + / - )
3. Pemeriksaan Rambut
a. Ispeksi dan Palpasi :
Penyebaran (merata / tidak), Bau …. rontok ( + / - ),
warna .............Alopesia ( + / - ), Hirsutisme ( + / - ),
alopesia ( + / - )
4. Pemeriksaan Kuku
a. Inspeksi dan palpasi, warna ………. , bentuk…………..
kebersihan …………
5. Keluhan yang dirasakan oleh klien yang berhubungan dengan
Px. Kulit : .............................................................................................

D. PEMERIKSAAN KEPALA, WAJAH DAN LEHER

1. Pemeriksaan Kepala
Inspeksi : bentuk kepala ( dolicephalus/ lonjong,
Brakhiocephalus/ bulat ), kesimetrisan ( + / - ). Hidrochepalu( + / - ), Luka ( + / - ), darah ( +/-), Trepanasi ( + / - ).
Palpasi : Nyeri tekan ( + / - ), fontanella / pada bayi (cekung / tidak)

2. Pemeriksaan Mata
Inspeksi :
a. Kelengkapan dan kesimetrisan mata ( + / - )
b. Ekssoftalmus ( + / - ), Endofthalmus ( + / - )
c. Kelopak mata / palpebra : oedem ( + / - ), ptosis ( + / - ),
peradangan ( + / - ) luka ( + / - ), benjolan ( + / - )
d. Bulu mata : rontok atau tidak
e. Konjunctiva dan sclera : perubahan warna ……….
f. Warna iris ......................., reaksi pupil terhadap cahaya
g. (miosis / midriasis) isokor ( + / - )
Kornea : warna ..............
Nigtasmus ( + / - )
Strabismus ( + / - )
h. Pemeriksaan Visus
Dengan Snelen Card : OD ............. OS .........................
Tanpa Snelen Card : Ketajaman Penglihatan ( Baik /
Kurang )
i. Pemeriksaan lapang pandang
Normal / Haemi anoxia / Haemoxia
j. Pemeriksaan t ekanan bola mata
Dengan tonometri …………, dengan palpasi taraba ……. 
3 Pemeriksaan Telinga
k. Inspeksi dan palpasi
Amati bagian telinga luar: bentuk ……………………..
Ukuran …………………. Warna …………………… lesi (+ / - ), nyeri tekan ( + / - ), peradangan ( + / - ), penumpukan serumen ( + / - ).
Dengan otoskop periksa membran tympany amati, warna
................, transparansi ............................, perdarahan ( + / - ), perforasi ( + / - ).
Uji kemampuan kepekaan telinga :
- Tes bisik ........................................
- Dengan arloji ..................................
- Uji weber : seimbang / lateralisasi kanan /
lateralisasi kiri
Uji rinne : hantaran tulang lebih keras / lemah /
sama dibanding dengan hantaran udara
- Uji swabach : memanjang / memendek / sama

4. Pemeriksaan Hidung

a. Inspeksi dan palpasi
Amati bentuk tulang hidung dan posis septum nasi
( adakah pembengkokan Atau tidak )
Amati meatus : perdarahan ( + / - ), Kotoran ( + / - ),
Pembengkakan ( + / - ), pembesaran / polip ( + / - )

5. Pemeriksaan Mulut dan Faring

a. Inspeksi dan Palpasi
Amati bibir : Kelainan konginetal ( labioseisis,
palatoseisis, atau labiopalatoseisis ), warna bibir …………………., lesi ( + / - ), Bibir pecah (+ / - ),
Amati gigi ,gusi, dan lidah : Caries ( + / - ), Kotoran ( + / - ), Gigi palsu ( + / - ), Gingivitis ( + / - ),
Warna lidah : ……….Perdarahan ( + / - ) dan abses ( + / - ).
Amati orofaring atau rongga mulut : Bau mulut :
…………………………… uvula ( simetris / tidak ), Benda asing : ( ada / tidak ) Adakah pembesaran tonsil, T 0 / T 1 / T 2 / T 3 / T 4
Perhatikan suara klien : ( Berubah atau tidak )

6. Pemeriksaan Wajah
Inspeksi : Perhatikan ekspresi wajah klien : tegang / rileks, Warna dan kondisi wajah klien : ………………….., Struktur wajah klien : ………………….Kelumpuhan otot-otot fasialis ( + / - )

7. Pemeriksaan Leher
Dengan inspeksi dan palpasi amati dan rasakan :
a. Bentuk leher (simetris atau asimetris), peradangan ( + / - ), jaringan parut ( + / - ), perubahan warna ( + / - ), massa ( + / - )
b. Kelenjar tiroid, pembesaran ( + / - )
c. Vena jugularis, pembesaran ( + / - )
Palpasi : pembesaran kelenjar limfe ( + / - ), kelenjar tiroid ( + / - ), posisi trakea (simetris/tidak simetris)
Keluhan yang dirasakan klien terkait dengan Px. Kepala, wajah, leher ............................................................................................

E. PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK
a. Inspeksi
Ukuran payudara ………., bentuk (simetris / asimetris), pembengkakan (+ /- ).
Kulit payudara : warna ..................., lesi ( + / - ), Areola : perubahan warna (+ / - )
Putting : cairan yang keluar ( + / - ), ulkus ( + / - ), pembengkakan ( + / - )
b. Palpasi

Nyeri tekan ( + / - ), dan kekenyalan (keras/kenyal/lunak), benjolan massa ( + / - )
c. Keluhan lain yang terkait dengan Px. Payudara dan ketiak :
…………………………………………………….

F. PEMERIKSAAN TORAK DAN PARU
a. Inspeksi
Bentuk torak (Normal chest / Pigeon chest / Funnel chest / Barrel chest), susunan ruas tulang belakang (Kyposis / Scoliosis / Lordosis), bentuk dada (simetris / asimetris), keadaan kulit ..........................
Retrasksi otot bantu pernafasan : Retraksi intercosta ( + / - ), retraksi suprasternal ( + / - ), Sternomastoid ( + / - ), pernafasan cuping hidung ( + / - ).
Pola nafas :
(Eupnea / Takipneu / Bradipnea / Apnea / Chene Stokes / Biot’s / Kusmaul)
Amati : cianosis ( + / - ), batuk (produktif / kering / darah ).
b. Palpasi
Pemeriksaan taktil / vocal fremitus : getaran antara kanan dan kiri teraba (sama / tidak sama). Lebih bergetar sisi ............................
c. Perkusi
Area paru : ( sonor / Hipersonor / dullnes )
d. Auskultasi
1. Suara nafas
Area Vesikuler : ( bersih / halus / kasar ) , Area Bronchial : ( bersih / halus /kasar ) Area Bronkovesikuler ( bersih / halus / kasar )
2. Suara Ucapan
Terdengar : Bronkophoni ( + / - ), Egophoni ( + / - ), Pectoriloqy ( + / - )
3. Suara tambahan
Terdengar : Rales ( + / - ), Ronchi ( + / - ), Wheezing ( + / - ),
Pleural fricion rub ( + / - )

4. Keluhan lain yang dirasakan terkait Px. Torak dan Paru :
...............................................................................................

G. PEMERIKSAAN JANTUNG
a. Inspeksi
Ictus cordis ( + / - ), pelebaran ........cm
b. Palpasi
Pulsasi pada dinding torak teraba : ( Lemah / Kuat / Tidak teraba )
c. Perkusi
Batas-batas jantung normal adalah :
Batas atas : ………………….. ( N = ICS II )
Batas bawah : …....................... ( N = ICS V)
Batas Kiri : …………………... ( N = ICS V Mid Clavikula Sinistra)
Batas Kanan : ……………….. ( N = ICS IV Mid Sternalis Dextra)
d. Auskultasi
BJ I terdengar (tunggal / ganda, ( keras / lemah ), ( reguler / irreguler )
BJ II terdengar (tunggal / ganda ), (keras / lemah), ( reguler / irreguler )
Bunyi jantung tambahan : BJ III ( + / - ), Gallop Rhythm (+ / -), Murmur (+ / - )
e. Keluhan lain terkait dengan jantung :
....................................................................................................

H. PEMERIKSAAN ABDOMEN
a. Inspeksi
Bentuk abdomen : ( cembung / cekung / datar )
Massa/Benjolan ( + / - ), Kesimetrisan ( + / - ),
Bayangan pembuluh darah vena (+ /-) 
b. Auskultasi
Frekuensi peristaltic usus ........... x/menit ( N = 5 – 35 x/menit, Borborygmi ( + / - )
c. Palpasi
Palpasi Hepar :
Ddiskripsikan :
Nyeri tekan ( + / - ), pembesaran ( + / - ), perabaan (keras / lunak), permukaan (halus / berbenjol-benjol), tepi hepar (tumpul / tajam) . ( N = hepar tidak teraba).
Palpasi Lien :
Gambarkan garis bayangan Schuffner dan pembesarannya.......
Dengan Bimanual lakukan palpasi dan diskrisikan nyeri tekan terletak pada garis Scuffner ke berapa ? .............( menunjukan pembesaran lien )
Palpasi Appendik :
Buatlah garis bayangan untuk menentukan titik Mc. Burney . nyeri tekan ( + / - ), nyeri lepas ( + / - ), nyeri menjalar kontralateral ( + / - ).
Palpasi dan Perkusi Untuk Mengetahui ada Acites atau tidak :
Shiffing Dullnes ( + / - ) Undulasi ( + / - )
Normalnya hasil perkusi pada abdomen adalah tympani.
Palpasi Ginjal :
Bimanual diskripsikan : nyeri tekan( + / - ), pembesaran ( + / - ).
(N = ginjal tidak teraba).
Keluhan lain yang dirasakan terkait dengan Px. Abdomen :
..........................................................................................................

I. PEMERIKSAAN GENETALIA
1.    Genetalia Pria
Inspeksi :
Rambut pubis (bersih / tidak bersih ), lesi ( + / - ), benjolan ( + / - )
Lubang uretra : penyumbatan ( + / - ), Hipospadia ( + / - ), Epispadia ( + / - )
Palpasi
Penis : nyeri tekan ( + / - ), benjolan ( + / - ), cairan ...............................
Scrotum dan testis : beniolan ( + / - ), nyeri tekan ( + / - ),
Kelainan-kelainan yang tampak pada scrotum :
Hidrochele ( + / - ), Scrotal Hernia ( + / - ), Spermatochele ( + / - ) Epididimal Mass/Nodularyti ( + / - ) Epididimitis ( + / - ), Torsi pada saluran sperma ( + / - ), Tumor testiscular ( + / - )
Inspeksi dan palpasi Hernia :
Inguinal hernia ( + / - ), femoral hernia ( + / - ), pembengkakan ( + / - )

2. Pada Wanita
Inspeksi
Kebersihan rambut pubis (bersih / kotor), lesi ( + / - ),eritema ( + / - ), keputihan ( + / - ), peradangan ( + / - ).Lubang uretra : stenosis /sumbatan ( + / - )

J. PEMERIKSAAN ANUS

a. Inspeksi
Atresia ani ( + / - ), tumor ( + / - ), haemorroid ( + / - ), perdarahan ( + / - )
Perineum : jahitan ( + / - ), benjolan ( + / - )
b. Palpasi
Nyeri tekan pada daerah anus ( + / - ) pemeriksaan Rectal Toucher ……………
Keluhan lain yang dirasakan terkait dengan Px. Anus :
...........................................................................................................

K. PEMERIKSAAN MUSKULOSKELETAL ( EKSTREMITAS )
a. Inspeksi
Otot antar sisi kanan dan kiri (simetris / asimetris), deformitas (+ / -), fraktur (+ /-) lokasi fraktur ………………….., jenis fraktur …………………… kebersihan luka…………………….., terpasang Gib ( + / - ), Traksi ( + / - )

b. Palpasi
Oedem :

Lingkar lengan : ………………………………….

Lakukan uji kekuatan otat :

L. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
a. Menguji tingkat kesadaran dengan GCS ( Glasgow Coma Scale )
1. Menilai respon membuka mata …………..
2. Menilai respon Verbal ………….
3. Menilai respon motorik …………..
Setelah dilakukan scoring maka dapat diambil kesimpulan :
(Compos Mentis / Apatis / Somnolen / Delirium / Sporo coma / Coma) 
b. Memeriksa tanda-tanda rangsangan otak
Penigkatan suhu tubuh ( + / -), nyeri kepala ( + / -), kaku kuduk ( + / -), mual –muntah ( + / -) kejang ( + / -) penurunan tingkat kesadaran ( + / -)
c. Memeriksa nervus cranialis
Nervus I , Olfaktorius (pembau ) ………..
Nervus II, Opticus ( penglihatan )...............
Nervus III, Ocumulatorius .....................
Nervus IV, Throclearis ………………
Nervus V, Thrigeminus : - Cabang optalmicus : ...................
- Cabang maxilaris : .............................
- Cabang Mandibularis : ..........................
Nervus VI, Abdusen …………………..
Nervus VII, Facialis .............................
Nervus VIII, Auditorius ..........................
Nervus IX, Glosopharingeal .................................
Nervus X, Vagus …………………..
Nervus XI, Accessorius .................................
Nervus XII, Hypoglosal ..................................
d. Memeriksa fungsi motorik
Ukuran otot (simetris / asimetris), atropi ( + / -) gerakan-gerakan yang tidak disadari oleh klien ( + / -)
e. Memeriksa fungsi sensorik
Kepekaan saraf perifer : benda tumpul ……………….., benda tajam ………………. Menguji sensai panas / dingin ……………….kapas halus ……….. minyak wangi ……………………..
f. Memeriksa reflek kedalaman tendon
1. Reflek fisiologis
a. Reflek bisep ( + / -)
b. Reflek trisep ( + / -)
c. Reflek brachiradialis ( + / -)
d. Reflek patella ( + / -)
e. Reflek achiles ( + / -)
2. Reflek Pathologis
Bila dijumpai adanya kelumpuhan ekstremitas pada kasus-kasus tertentu.
a. Reflek babinski ( + / -)
b. Reflek chaddok ( + / -)
c. Reflek schaeffer ( + / -)
d. Reflek oppenheim ( + / -)
e. Reflek Gordon ( + / -)
f. Reflek bing ( + / -)
g. Reflek gonda ( + / -)
Keluhan lain yang terkait dengan Px. Neurologis : .......................

V. RIWAYAT PSIKOLOGIS
a. Status Nyeri :
1. Menurut Skala Intensitas Numerik
● ● ● ● ● ● ● ● ● ●
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2. Menurut Agency for Health Care Policy and Research
No Intensitas Nyeri
Diskripsi
1 □ Tidak Nyeri Pasien mengatakan tidak
merasa nyeri
2 □ Nyeri ringan Pasien mengatakan sedikit nyeri atau ringan.
Pasien nampak gelisah 
3 □ Nyeri sedang Pasien mengatakan nyeri masih bisa ditahan atau sedang
Pasien nampak gelisah
Pasien mampu sedikit berparsitipasi dalam perawatan
4 □ Nyeri berat Pasien mangatakan nyeri tidak dapat ditahan atau berat.
Pasien sangat gelisah
Fungsi mobilitas dan perilaku pasien berubah
5 □ Nyeri sangat berat Pasien mengatan nyeri tidak tertahankan atau sangat berat
Perubahan ADL yang mencolok
( Ketergantungan ), putus asa.
b. Status Emosi
Bagaimana ekspresi hati dan perasaan klien : …………………………….., Tingkah laku yang menonjol : ………………..........................
Suasana yang membahagiakan klien : ……………………………
Stressing yang membuat perasaan klien tidak nyaman : ...........................................
c. Gaya Komunikasi
Apakah klien tampak hati-hati dalam berbicara ( ya / tdk ), apakah pola komunikasinya ( spontan / lambat ), apakah klien menolak untuk diajak komunikasi ( ya / tdk ), Apakah komunikasi klien jelas ( ya / tdk ), apakah klien menggunakan bahasa isyarat ya / tdk ).
d. Pola Interaksi
Kepada siapa klien berspon :………………………………………
Siapa orang yang dekat dan dipercaya klien : …………………
Bagaimanakah klien dalam berinteraksi ( aktif / pasif ), Apakah tipe kepribadian klien ( terbuka / tertutup ).
e. Pola Pertahanan
Bagaimana mekanisme kopping klien dalam mengatasimasalahnya : ………
g. Dampak di Rawat di Rumah Sakit
Apakah ada perubahan secara fisik dan psikologis selama klien di rawat di RS : ....................................
M. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL DAN SPIRITUAL
1.    Kondisi emosi / perasaan klien
- Apa suasana hati yang menonjol pada klien ( sedih / gembira )
- Apakah emosinya sesuai dengan ekspresi wajahnya ( ya / tdk )
2.    Kebutuhan Spiritual Klien :
- Kebutuhan untuk beribadah ( terpenuhi / tidak terpenuhi )
- Masalah- masalah dalam pemenuhan kebutuhan spiritual : ....................................
- Upaya untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan spiritual : .........................
3.    Tingkat Kecemasan Klien :
No Komponen Yang dikaji Cemas
Ringan Cemas
Sedang Cemas
Berat Panik
1. Orintasi terhadap
Orang, tempat,waktu
□ Baik □ Menurun □ Salah □ Tdk
ada reaksi
2. Lapang persepsi □ Baik
□ Menurun □ Menyempit □ Kacau
3. Kemampuan menyelesaikan masalah □ Mampu □ Mampu dengan bantuan □Tidak mampu □Tdk
ada tanggapan
4. Proses Berfikir □ Mampu berkonsentrasi dan mengingat dengan baik □ Kurang mampu mengingat dan berkonsentrasi □Tidak mampu mengingat dan berkonsentrasi □Alur fikiran kacau
5 Motivasi □ Baik □ Menurun
□ Kurang □ Putus asa
4.    Konsep diri klien:
a. Identitas diri :............................................................................
b. Ideal diri : ............................................................................
c. Gambaran diri : ........................................................................
d. Harga diri :......................................................................
e. Peran : ..............................................................................

N. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

A. DARAH LENGKAP :
Leukosit                     : .............................. ( N : 3.500 – 10.000 / µL )
Eritrosit                       : .............................. ( N : 1.2 juta – 1.5 juta µL )
Trombosit                   : .............................. ( N : 150.000 – 350.000 / µL )
Haemoglobin                        : ............................... ( N : 11.0 – 16.3 gr/dl )
Haematokrit               : ............................... ( N : 35.0 – 50 gr / dl )

B. KIMIA DARAH     :
Ureum                        : ............................. ( N : 10 – 50 mg / dl )
Creatinin                   : ............................. ( N : 07 – 1.5 mg / dl )
SGOT                         : ............................. ( N : 2 – 17 )
SGPT                         : ............................. ( N : 3 – 19 )
BUN                           : ............................. ( N : 20 – 40 / 10 – 20 mg / dl )
Bilirubin                     : ............................. ( N : 1,0 mg / dl )
Total Protein             : ............................. ( N : 6.7 – 8.7 mg /dl )

C. ANALISA ELEKTROLIT :
Natrium : ............................. ( N : 136 – 145 mmol / l )
Kalium : ............................. ( N ; 3,5 – 5,0 mmol / l )
Clorida : ............................. ( N : 98 – 106 mmol / l )
Calsium : ............................. ( N : 7.6 – 11.0 mg / dl )
Phospor : ............................. ( N : 2.5 – 7.07 mg / dl )

O. PEMERIKSAAN PENUNJANG :

A. Jika ada jelaskan gambaran hasil foto Rongent, USG, EEG, EKG, CT-Scan, MRI, Endoscopy dll.

P. TERAPI YANG TELAH DIBERIKAN :
................................................................................................................................

Pengertian Teori, Model, dan Konsep Asuhan Kebidanan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Teori, Model, dan Konsep Asuhan Kebidanan
 A. Pengertian Teori Kebidanan
    Teori adalah ide yang direncanakan dalam pikiran dan dituangkan ke dalam gambaran berupa objek tentang suatu kejadiaan atau objek yang digunakan oleh peneliti untuk menggambarkan fenomena sosial yang menarik perhatiannya. Teori berfungsi sebagai jalur logika atau penalaran yang digunakan oleh peneliti untuk menerangkan hubungan pengaruh antar fenomena  yang dikaji.
    Jadi teori kebidanan merupakan seperangkat konsep yang dapat menguraikan secara jelas tentang disiplin ilmu kebidanan.
B. Pengertian Model Kebidanan
Model adalah contoh atau peragaan untuk menggambarkan sesuatu. Sedangkan Model Kebidanan adalah atau suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja. seorang bidan dalam memberi asuhan kebidanan dan tidak terlepas dari teori yang mempengaruhinya.
C. Pengertian Konsep Asuhan Kebidanan
Konsep adalah penopang sebuah teori yang menjelaskan tentang suatu teori yang menjelaskan tentang suatu teori yang menjelaskan tentang suatu teori yang dapat dites dalam suatu observasi atau penelitian bersifat abstrak yang menggambarkan cirri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa, fenomena.
Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab bidan dalam memberi pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan masalah kesehatan ibu di masa hamil, persalinan, nifas, seletah lahir, serta keluarga berencana.






2.2 Model Konseptual Asuhan Kebidanan
    Model Konseptual kebidanan adalah tolak ukur bagi bidan dalam memberi asuhan kebidanan. Konseptual model adalah gambaran abstrak dari suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin. Model asuhan kebidanan yaitu kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses kehidupan normal.
Dalam asuhan kebidanan termasuk :
1.    Memonitor kesejahteraan ibu baik fisik, psikologi maupun social dalam siklus kehamilan dan persalinan
2.    Mempersiapkan ibu dengan memberikan pendidikan, konseling, asuhan prenatal, dalam proses persalinan dan bantuan masa post partum
3.    Intervensi teknologi seminimal mungkin
4.    Mengidentifikasi dan memberikan bantuan obstetric yang dibutuhkan
5.    Ruang lingkup praktek kebidanan :
•    Menolong Persalinan
•    Konseling
•    Penyuluhan
•    Asuhan pada saat hamil, melahirkan, nifas dan BBL
•    Deteksi dini penyakit
•    Pengobatan terbatas ginekologi
•    Pertolongan gawat darurat
•    Pengawasan tumbuh kembang
•    Supervisi
Ada beberapa manfaat yang bisa didapat dengan melakukan konseling diantaranya :
•    Menurunkan / menghilangkan stress
•    Membuat diri kita merasa lebih baik, bahagia, tenang dan nyaman
•    Lebih memahami diri sendiri dan orang lain
•    Merasakan kepuasan dalam hidup
•    Mendorong perkembangan personal
•    Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan orang lain
•    Memaksimalkan fungsi diri dan kehidupan kita sehari – hari
Pengantar teori dalam praktek kebidanan dituangkan dalam standar pelayanan kebidanan yang berguna dalam penerapan norma dan tingkat kinerja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar pelayanan akan melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan dengan jelas. Dengan adanya standar pelayanan dapat dibandingkan dengan pelayanan yang diperoleh masyarakat akan memberikan kepercayaan yang lebih mantap terhadap pelaksana pelayan.
Masalah yang ditemukan dalam penyusunan standar pelayanan kebidanan adalah bahwa diantara apa yang telah biasa dilakukan dalam praktek kebidanan sebenarnya merupakan tindakan ritualistic yang tidak berdasarkan pada pengalaman praktek yang terbaik. Dalam standar praktek kebidanan tindakan yang bersifat ritualistic seperti melakukan episiotomi secara rutin dan memandikan bayi setelah lahir sudah tidak dianjurkan lagi. Perubahan standar pelayanan seperti inididasarkan pada pengalaman yang terbaik dari para praktisi di seluruh dunia.
Praktek kebidanan, managemen kesehatan wanita secara mandiri berfokus pada kehamilan, persalinan, nifas, asuhan BBL, KB dan kesehatan reproduksi wanita.

   

















2.3. Teori Asuhan Kebidanan menurut Ela Joy Lehrman
    Dalam menjalankan profesi kebidanan, Ela Joy Lehrman melihat makin banyaknya tugas yang dibebankan pada bidan yang harus dilaksanakan dengan penuh profesionalisme dan tanggung jawab. Dengan pandangan Ela Joy lehrmen tersebut menjadi latar belakang munculnya teori kebidanan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. Teori lehrman ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktik pemberian asuhan pada wanita hamil dan memberi pertolongan persalinan.
    Lehrman menyelidiki bahwa pelayanan antenatal menunjukan perbedaan antara prosedur administrasi yang dibebankan serta manfaat antenatal dan jenis pelayanan yang diterima wanita di klinik kebidanan. Hubungan antara identifikasi faktor risiko dan keefektifan dari antenatal care terhadap hasil yang diinginkan belum terpenuhi.
    Leherman dan koleganya ingin menjelaskan perbedaan antara pengalaman seorang wanita dengan keseorangan bidan untuk mengaplikasikan konsep kebidanan dalam praktek. Tujuan dari penelitian yang dilakukan Lehrman yaitu mengidentifikasi kompenen- komponen yang saling mempengaruhi dalam praktek kebidanan.
Hasil dari penelitiannya adalah Teori yang dikemukakan oleh Lehrman mencakup 8 konsep yang penting dalam pelayanan antenatal, diantaranya:
1.    Asuhan yang berkesinambungan
2.    Keluarga sebagai pusat asuhan
3.    Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
4.    Tidak ada intervensi dalam asuhan
5.    Fleksibilitas dalam asuhan
6.    Keterlibatan dalam asuhan
7.    Advokasi dari klien
8.    Waktu
Pada asuhan partisipatif bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, perencanaan, dan evaluasi. Pasien / klien ikut bertanggung jawab atau mengambil bagian dalam pelayanan antenatal. Dalam pemeriksaan fisik, misalnya palipasi klien akan melakukan pada tempat tertentu atau ikut mendengarkan denyut jantung. Dari ke delapan komponen yang dibuat Lehraman tersebut kemudian diuji cobakan oleh Morten pada tahun 1991 pada pasien pascapartum.



Dari hasil penerapan uji coba tersebut Morten menambahkan tiga komponen lagi pada ke delapan konsep yang dibuat oleh Lehrman yaitu:
1.    Tekhnik Terapeutik
Proses komunikasi yang sangat penting dalam komunikasi konseling secara khusus yang lebih mengutamakan konsep terapi seorang tenaga kesehatan dalam proses perkembangan dan penyembuhan pasein / klien. Terapeutik dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap misalnya :
•    Mendengar dengan aktif
•    Mengkaji masalah
•    Klarifikasi masalah
•    Humor ( tidak bersikap kaku )
•    Sikap yang tidak menuduh
•    Jujur
•    Mengakui kesalahan
•    Pengakuaan fasilitasi ( memfasilitasi )
•    Menghargai hak klien
•    Pemberiaan izin

2.    Pemberdayaan ( Empowerment )

Suatu proses pemberiaan kekuatan dan kekuasaan. Melalui penampilan dan pendekatan bidan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengoreksi, mengesahkan, menilai, dan memberi dukungan.

3.    Hubungan Sesama ( Lateral Relationship )

Meliputi menjalin hubungan yang baik dengaan klien, bersikap terbuka dengan klien, sejalan dengan klien sehingga antara klien dan bidan terlihat tampak akrab dan tebina hubungan saling percaya yang harmonis (misalnya, sikap empati, atau berbagi pengalaman).








2.4 Teori Asuhan Kebidanan Ernesrtine Wiedenbach
     Ernestine adalah seorang perawat kebidanan lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Yale, yang sangat tertarik pada masalah seputar keperawatan maternitas yang terfokus pada keluarga ( Family – Centered Maternity Nursing ).
    Selain berpengalaman sebagai perawat dengan bekerja di klinik selama puluhan tahun, ia juga seorang penulis yang telah menghasilkan beberapa buku dan berpartisipasi dalam beberapa penelitian salah satunya bersama ahli filsafat bernama Dickoff. Konsep yang dihasilkan oleh Ernestine bukan hasil penelitiaan melainkan hasil pemikirannya yang dituangkan dalam bukunya Family - Centered Marternity Nursing.
    Konsep yang luas Wiedenbach yang nyata di temukan dalam keperawatan :
1.    The agent ( Perantara )
Meliputi perawat, bidan dan orang lain
Ernestine mengutarakan empat konsep yang mempengaruhi praktik keperawatan yaitu filosofi, tujuan, praktik dan seni. Filosopi yang dikemukakan adalah tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera mengembangkan yang lebih luas yaitu keburuhan untuk persiapan menjadi orang tua.

2.    The recipient ( Penerima )
Meliputi wanita, keluarga, masyarakat. Menurut Wiedenbach adalah untuk memenuhi kebutuhannya terhadap bantuan. Individu penerima harus dipandang sebagai seseorang yang kompeten dan mampu melakukan segalannya sendiri. Jadi perawat atau bidan memberi pertolongan hanya apabila individu tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.

3.    The goal / purpose
Tujuan dari proses keperawatan adalah membantu orang yang membutuhkan bantuan. Perawat atau bidan harus bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien yang terlihat melalui prilakunya yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dengan memperhatika fisik, emosional dan fisiogikal. Untuk bisa mengidentifikasi kebutuhan pasien / klien, bidan atau perawat harus menggunakan mata, telinga, tangan serta pikirannya.

4.    The Means
Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada empat tahap yaitu
a.    Identifikasi kebutuhan klien, memerlukan keterampilan dan ide
b.    Memberikan dukugan dalam mencapai pertolongan yang dibutuhkan (ministion) 
c.    Memberikan bantuan sesuai kebutuhan ( validation )
d.    Mengkoordinasi tenaga yang ada untuk memberikan bantuaan ( coordination )
Untuk mengindentifikasi kebutuhan ini diperlukan :
•    Pengetahuan             :  untuk bisa memahami kebutuhan pasien / klien
•    Judgement (penilaian)   :  kemampuan pengambilan keputusan
•    Keterampilan            :  kemampuan perawat / bidan memenuhi kebutuhan
                                            pasien

e.     The frame work lingkungan social, organisasi  dan profesi.
      Kelima kelompok Wiedenbach dapat digambarkan dalam bagian :
•    Identifikasi
•    Mempersiapkan
•    Koordinasi
•    Validasi
Dari kelima elemen tersebut saling berhubungan, seperti yang terlihat dalam :

                                         













BAB III
KESIMPULAN
    Dalam menjalankan profesi kebidanan, diperlukan tanggung jawab dan profesionalisme yang tinggi. Untuk mewujudkannya diperlukan beberapa konsep asuhan kebidanan seperti yang telah diuraikan diantaranya : asuhan yang berkesinambungan, keluarga sebagai pusat asuhan, pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan, tidak ada intervensi dalam asuhan, fleksibilitas dalam asuhan, keterlibatan dalam asuhan, advokasi dari klien,dan waktu. Serta, di perlukannya perantara ( bidan ), penerima ( pasien/klien ), maksud dan tujuan asuhan kebidanan.
    Sehingga pemberian pelayanan dari seorang tenaga kesehatan (bidan) kepada pasien/klien terpenuhi. Setiap kebutuhan dalam bantuan pertolongan persalinan, harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan pelayanan dalam asuhan kebidanan itu sendiri. Jadikan setiap pasien/klien itu keluarga kita karena dengan begitu akan terwujud hubungan yang harmonis, dan sangat membantu dalam kelancaran pelayanan kesehatan.
   
 














Daftar pustaka
http://www.google.co.id/search?hl=id&&sa=X&ei=FK8ITdHhLsWyrAeY0PjUDg&ved=0CCYQBSgA&q=teori,model,konsep+menurut+ela+joy+lehrman+ernestine&spell=1
http://dypta.wordpress.com/2009/01/21/teori-teori-yang-mempengaruhi-model-kebidanan/
http://obstetriginekologi.com/og/teori+kebidanan+ela+joy+lehrman.html
http://nurul-yulianti.blogspot.com/2009/04/konsep-kebidanan.html?zx=967e2ccfef91c045
http://books.google.co.id/books?id=uLR04keGCyUC&printsec=frontcover&dq=konsep+kebidanan+sejarah+dan+profesionalisme+oleh+atik+purwandari+A.md.keb,SKM&source=bl&ots=Oz7p6Co7-r&sig=3uetmWp8yGeaeoEyDGv9qTtbwwE&hl=id&ei=JoEJTYKBMIvqrQfPl4jVDg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBYQ6AEwAA#v=onepage&q=konsep%20kebidanan%20sejarah%20dan%20profesionalisme%20oleh%20atik%20purwandari%20A.md.keb%2CSKM&f=false
http://bidanku.blogspot.com/2008/11/buku-konsep-kebidanan.html
http://episentrum.com/layanan/konseling/#more-19
http://infomediakita.blogspot.com/2010/04/makalah-kebidanan.html
Arsinah, dkk. (2010). Konsep Kebidanan. Banjarnegara: Graha ilmu
Soepardan, Dra. Hj Suryani. (2006). Konsep Kebidanan.Bandung: Buku Kedokteran EGC.

Sejarah Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Pendidikan Kebidanan internasional

BAB II
PEMBAHASAN
 Sejarah Perkembangan Pendidikan dan Pelayanan Pendidikan Kebidanan internasional

Sebelum abad 20(1700 – 1900)
William Smellie dari Scotlandia (1677-1763) mengembangkan forceps dengan kurva pelvik seperti kurva shepalik. Dia memperkenalkan cara pengukuran konjungata diagonalis dalam pelvi metri. Menggambarkan metodenya tentang persalinan lahirnya kepala pada presentasi bokong dan penganangan resusitasi bayi aspiksi dengan pemompaan paru-paru melalui sebuah metal kateler.
       Ignoz Phillip semmelweis, seorang dokter dari Hungaria (1818 – 1865) pengenalan Semmelweiss tentang cuci tangan yang bersih mengacu pada pengendalian sepsis puerperium.
James Young simpson dair Edenburgh, scotlandia (1811-1870) memperkenalkan dan menggunakan arastesi umum, tahun 1807, Ergot sejenis cendawan yang tumbuh pada sejenis gandung hitam, diketahui efektif dalam mengatasi pendarahan postpartum. Hal ini merupakan permulaan pengguguran.
       Tahun 1824 James Blundell dari Inggris yang menjadi orang pertama yang berhasil menangani perdarahan postpartum dengan menggunakan transfusi darah.
Jean lubumean dari Perancis (orang kepercayaan Rene Laenec, penemu Stetoskop pada tahun 1819) pertama kali mendengar bunyi jantung janin dengan stetoskop pada tahun 1920.
        Jhon Charles Weaven dari Inggris (1811 – 1859) adalah. Pada tahun 1843, pertama yang yang melakukan test urine pada wanita hamil untuk pemeriksaan dan menghubungkan kehadirannya dengan eklamsia.
       Adolf Pinard dari Prancis (1844-1934) pada tahun 1878, mengumumkan kerjanya pada palpasi abdominal
      Carl Crede dari Jerman (1819 – 1892) menggambarkan metodanya stimulasi urine yang lembut dan lentur untuk mengeluarkan placenta
       Juduig Bandl, dokter obstetri dari Jerman (1842 – 1992), pada thaun 1875, menggambarkan lingkaran retraksi yang pasti muncul pada pertemuan segment atas rahim dan segmen bawah rahim dalam persalinan macet/sulit.
       Daunce dari Bordeauz. Pada tahun 1857, memperkenalkan pengguran inkubator dalam perawatan bayi prematur.




                                                        

       Postnatal care sejak munculnya hospitalisasi untuk persalinan telah berubah dari perpanjangan masa rawatan sampai 10 hari, ke trend “Modern” ambulasi diri. Yang pada kenyataannya, suatu pengembalian pada “cara yang lebih alami”.
 Selama beberapa tahun, pemisahan ibu dan bayi merupakan praktek yang dapat diterima di banyak rumah sakit, dan alat menyusui bayi buatan menjadi dapat diterima, dan bahkan oleh norma! Bagaimanapun, alami sekali lagi “membuktikan dirinya “rooing-in” dipraktekan dan menyusui dipromosikan menyusui disemua rumah sakit yang sudah mendapat penerangan
       Perkembangan teknologi yang cepat telah monitoring anthepartum dan intrapartum yang tepat menjadi mungkin dengan pengguraan ultrasonografi dan cardiotocografi, dan telah merubah prognosis bagi bayi prematur secara dramatis ketika dirawat di neonatal intersive acara urits, hal ini juga memungkinkan perkembangan yang menakjubkan

2.1.      Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara New   Zealand
    New Zealand telah mempunyai peraturan tentang cara kerja kebidanan sejak tahun 1904, tetapi lebih dari 100 tahun yang lalu, lingkup praktik bidan telah berubah secara berarti sebagai hasil dari meningkatnya sistem perumahsakitan dan pengobatan atau pertolongan dalam kelahiran. Karena adanya otonomi bagi pekerja yang bergerak dalam prakteknya dengan lingkup praktek yang penuh di awal tahun 1900, secara perlahan bidan menjadi ‘asisten’ dokter. Bidan bekerja di masyarakat di mulai dengan bekerja di rumah sakit dalam area tertentu, seperti klinik antenatal, ruang bersalin dan ruang nifas, kehamilan dan persalinan menjadi terpisah menjadi khusus dan tersendiri secara keseluruhan. Dalam proses ini, bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiripun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut. Di samping itu bidan menjadi berpengalaman memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang lebih tepat untuk memberikannya.
              Model di atas ditujukan untuk memberikan pelayanan pada maternal dan untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan janin hal ini berlangsung pada tahun 1920 sampai dengan tahun 1980 dimana yang memberlakukan model tersebut adalah negara-negara barat seperti New Zealand. Tetapi strategi seperti itu tidak mencapai kesuksesan.
             Di New Zealand, para wanitalah yang melawan model asuh persalinan tersebut dan menginginkan kembalinya bidan ‘tradisional’ yaitu seseorang yang berpengalaman dari mulainya kehamilan sampai dengan enam minggu setelah persalinan. Mereka menginginkan bidan yang bekerja dipercaya kemampuannya untuk menolong persalinan tanpa intervensi dan memberikan dukungan bahwa persalinan adalah peristiwa yang normal .
          

                                                        
Wanita-wanita New Zealand menginginkan untuk mengambil alih kembali kontrol dalam persalinan mereka dan menempatkan diri mereka di tempat yang tepat sebagai pusat kontrol di dalam memilih apa yang berkenaan dengan diri mereka.
     Pada era 80-an, bidan bekerjasama dengan para wanita untuk menegaskan kembali otonomi bidan dan bersama-sama sebagai partner mereka telah membawa kebijakan politik yang diperkuat dengan legalisasi tentang prfoesionalisme praktek bidan.
 Sebagian besar bidan di New Zealand mulai memilih untuk bekerja secara mandiri dengan tanggungjawab penuh kepada klien dan asuhannya dalam lingkup yang normal. Lebih dari 10 tahun yang lalu, pelayanan maternitas telah berubah secara dramatis. Saat ini, 86% wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas, dan asuhan berkelanjutan pada persalinan dapat dilakukan di rumah ibu. Sekarang, di samping dokter, 63% wanita memilih bidan sebagai satu-satunya perawat maternitas, dalam hal ini terus meningkat. Ada suatu keinginan dari para wanita agar dirinya menjadi pusat pelayanan maternitas. Di rumah sakit pun memberikan pelayanan bagi yang menginginkan tenaga kesehatan profesional yaitu pusat pelayanan maternitas.
             Model kebidanan yang digunakan di New Zealand adalah partnership antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, dan wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan diri dan keluarganya, serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan. Pada awal kehamilan, anatara bidan dan wanita harus saling mengenal dan menumbuhkan rasa saling percaya di antara keduanya. Dasar dari model partnership adalah komunikasi dan negosiasi.
             Di New Zealand, bidan harus dapat membangun hubungan partnership dengan wanita yang menjadi kliennya, disamping bidan harus mempunyai kemampuan yang profesional.
2.2.      Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara Thailand

Pendidikan
        Pendidikan bidan di Thailand dilakukan selama 3 tahun dibawah pengawasan ahli kandungan. Perkuliahan termasuk anatomi fisiologi dan patologi dari kehamilan dan sebagainya. Nampaknya tidak ada ruangan untuk kegiatan organisasi siswa dan nampaknya tidak dianggap penting, dan dapat terlihat bahwa mereka lebih difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.
Pelayanan Antenatal
        Pada awalnya, pelayanan antenatal di Thailand dilakukan oleh dokter dengan beberapa perawat atau bidan yang melakukan tugas rutin yang cukup berat, pemeriksaan urine dan sebagai asisten dokter.



                                                         4  
Di beberapa area pedesaan bidan lebih terlibat dalam pelayanan antenatal. Angka kematian ibu bervariasi, tetapi biasanya lebih tinggi di area pedesaan dimana akses    untuk mendapatkan pelayanan sulit.difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.Ibu mengunjungi klinik secara rutin setiap bulan pada umur kehamilan 12-20 minggu pada kehamilan 32-40 minggu. Pemeriksaan urine rutin, tekanan darah dan berat badan dilakukan pada setiap kunjungan.

Pelayanan Intrapartum
            Di Thailand , beberapa persalinan terjadi di rumah, namun menurut laporan rumah sakit ada sekitar 51 bayi yang lahir di rumah sebelum ambulan datang. Pada saat masuk ke rumah sakit diikuti dengan berbagai peraturan, seorang ibu yang akan bersalin tidak dianamnesa lagi tentang statusnya dan apa yang terjadi pada dirinya. Suami tidak diperkenankan untuk menemani isterinya sampai 7 hari setelah kelahiran bayi. Di beberapa daerah hal ini tidak dilakukan, di daerah ini justru beranggapan bahwa ibu harus di support selama persalinan oleh suami. Banyak dokter yang tidak yakin akan hal ini, namun sebagian lagi sudah mau mendiskusikannya dan perubahan pola asuhan kebidanan lainnya.
             Kegiatan rutin pada saat masuk rumah sait adalah dengan cara mengoleskan jari tangan dan kaki dengan iodine 2% dan juga putting susu dengan Gentian Violet. Hal ini dilakukan untuk pencegahan infeksi di unit tertentu, yang juga merupakan salah satu enema dilakukan karena keharusan. Ruang bersalinnya juga sangat tidak ranmah dan dingin, menghadap koridor sehingga dapat dilihat oleh orang yang berlalulalang, toiletnya terbuka dan sangat tidak provacy.
           Persalinan dilakukan di meja persalinan dengan sikap litotomi. Nampaknya tidak ada upaya untuk memberikan penjelasan kepada ibu mengenai apa yang sedang terjadi. Bayi diberikan tetesan Prophylatic Albusid pada matanya sebelum diamati secara singkat dan berlangsung di bungkus, kemudaian dibawa ke ruangan khusus yang jauh dari ibunya. Sementara itu ibu diberi kompres es diperutnya untuk mencegah perdarahan postpartum dan menunggu di koridor selama 2 jam sebelkum dipindahkan ke ruangan postpartum.
           Bidan adalah asisten pertama dokter dan bertanggung jawab untuk melakukan observasi rutin. Bidan lebih banyak bekerja pada rumah sakit yang menitikberatkan pada asuhan dan persalinan normal.

2.3.     Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan di Negara Singapura
Para peneliti di singapura menemukan bahwa wanita hamil menerima sejumlah besar perhatian dari supervisor mereka, masyarakat, dan pekerja kesehatan setempat. Mereka yang bekerja di ladang tidak diizinkan untuk bekerja setelah minggu ke-28 mereka hamil .

                                                          5
Setelah anak itu lahir, ibu bisa meninggalkan anak mereka di sebuah pusat penitipan anak, meskipun mereka biasanya ditinggal di rumah untuk diurus oleh neneknya.
Mereka yang bekerja di pabrik-pabrik menerima cek up di tempat kerja, diizinkan jam kerja lebih sedikit, dan ketika anak mereka lahir, penitipan diberikan dengan jam untuk menyusui.
Menyusui adalah praktek umum dengan buruh pabrik, dan petani mampu untuk mengambil setiap beberapa jam off untuk memberi makan anak mereka.Banyak perempuan selama bulan pertama kehamilan mengunjungi bidan setempat, untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan membangun hubungan yang nyaman. Setiap bulan setelah, bidan akan mengambil tekanan darah untuk memeriksa toksemia .
Bagi mereka yang bekerja di pabrik-pabrik, di rumah pekerja kesehatan adalah orang yang diberikan tes kehamilan biologis. Hal ini karena setiap pekerja perempuan harus mengisi kartu menstruasi dan itu adalah tanggung jawab pekerja kesehatan untuk diperhatikan ketika beberapa hari telah terjawab
Selama tahun-tahun awal sebelum Sekolah Perawat, perawat pria dilatih di misi merawat orang sakit. Para siswa Perawatan dilatih di Stasiun Kesehatan Khusus untuk menambah pengalaman dari kesehatan masyarakat. Para pasien wanita di Stasiun Kesehatan Khusus, yang dirawat oleh anggota keluarga atau Amah terlatih. Itu tidak diperbolehkan untuk laki-laki yang tidak terkait untuk menangani tubuh seorang wanita karena constrictions social.Penekanan pada kesehatan masyarakat merupakan langkah besar dalam penyebaran nilai kebersihan pribadi dan sanitasi. Bidan juga mampu memberikan kontrol yang membantu kelahiran.
Program pertama diciptakan untuk berurusan dengan kebutuhan ibu dan anak didirikan oleh Marian Young. Dia adalah bagian dari program percontohan John B. Grant 'untuk mempromosikan kesehatan masyarakat untuk Peking Union Medical College.Muda survei dilakukan untuk menguji tingkat kematian dari kedua ibu dan anak-anak mereka.Angka kematian ibu lebih tinggi di Singapura. 17,6 dari 1000 ibu meninggal, terutama dari infeksi nifas. Angka ini rendah dibandingkan dengan kematian anak-anak, yang diklaim 275 dari 1000 bayi, biasanya dari neonatourm tetanus. Young percaya angka ini yang tinggi karena kurangnya pendidikan bidan. Pada tahun 1929, hanya ada sekitar 500 bidan terlatih di seluruh wilayah singapura , memaksa mayoritas warga negara untuk percaya dalam perawatan dari 200.000 tanpa pelatihan formal.  Ini bidan terlatih berlari risiko gagal melihat tanda-tanda infeksi atau penyakit , praktik sterilisasi yang tidak benar, dan kurangnya pelatihan sanitasi. Juga, mereka tidak terlatih dalam teknik melahirkan yang tepat.Ditemukan bahwa banyak bidan terlatih akan memotong tali pusat dengan benda tajam mereka kebetulan menemukan berbaring sekitar, dalam beberapa kasus gigi digunakan.


                                                          6
Pendarahan dari kabelnya akan dihentikan dengan kotoran atau lap.Tidak ada pendidikan tentang pentingnya sterilisasi dan kebersihan. Kadang-kadang, jika seorang wanita mengalami kesulitan menyampaikan, bidan terlatih akan menggunakan kait atau penjepit untuk membantu menciptakan traksi pada bayi.

Pada tahun 1929 Young membuka Sekolah Bidan, untuk studi di kebidanan. Dia perawat terlatih dari Peking Union Medical College dan bidan terlatih yang ada.
Pada akhir kursus, dia memberi setiap bidan keranjang barang yang akan membantu mereka menerapkan tindakan yang benar sambil membantu kelahiran. Ini merupakan langkah penting dalam kesehatan masyarakat perempuan.
Dengan bidan terlatih, akan ada sedikit peluang dengan menggunakan prosedur yang salah, dan standar prosedur sanitasi dan steril .Medis dan keperawatan mahasiswa bukan satu-satunya untuk belajar tentang kebersihan dan sanitasi.Juga termasuk adalah bahan untuk meyakinkan remaja untuk menikah di kemudian hari, dan untuk fokus awalnya pada karier mereka. Ketika mereka inginkan sebuah keluarga, disarankan bahwa itu adalah tetap untuk 1-2 anak.
Ini menyebar pendidikan dari daerah pedesaan ke perkotaan, bersama dengan banyak dokter dan perawat.Daerah pedesaan yang paling sulit untuk dicapai, karena mereka yang berakar jauh dalam tradisi.Para petani dan pekerja pedesaan lainnya percaya berat dalam pengobatan tradisional . adanya kebijakan baru mencoba untuk menggabungkan teknik kesehatan barat untuk membantu lebih berkonsentrasi pada kesehatan perempuan.

















                                                       7
BAB III
Kelebihan dan Kekurangan
3.1.     Kelebihan dan kekurangan system pelayanan bidan di Negara New Zelaend
System pelayanan kebidanan di Negara New Zeland pun tentunya memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan,
Kelebihannya mereka mampu memperbaiki kualitas pelayanan kebidanan secara baik seiring dengan berjalannya waktu yaitu:
•    wanita mendapatkan pelayanan dari bidan selama kehamilan sampai nifas, dan asuhan berkelanjutan pada persalinan dapat dilakukan di rumah ibu
•    Model kebidanan yang digunakan di New Zealand adalah partnership antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, dan wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan diri dan keluarganya, serta harapan-harapan terhadap kehamilan dan persalinan.
Sehingga sebelum melakukuan pelayanan bidan dan wanita harus saling mengenal agar bisa menumbuhkan rasa kepercayaan diantara keduanya.
Kekurangannya program yang sebelumnya dilakukan oleh bidan maupun tenaga kesehatan yang lainnya  seperti:
•    bidan kehilangan pandangan bahwa persalinan adalah suatu peristiwa yang normal dan dengan peran mereka sendiripun sebagai pendamping pada peristiwa normal tersebut
•    bidan jadi memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis, dimana seharusnya para dokter dan rumah sakit secara langsung yang lebih tepat untuk memberikannya

3.2.    Kelebihan dan Kekurangan system pelayanan bidan di Negara Thailand
Kelebihan dari pelayanan kebidanan di Negara Thailand adalah :
•    Bidan sangat bertanggung jawab penuh mengenai pola asuhan anak.
•    Bidan mempunyai pandangan bahwa persalinan adalah sesuatu yang normal.
Kekurangannya adalah :
•    Persalinan dilakukan di meja persalinan dengan sikap litotomi. Nampaknya tidak ada upaya untuk memberikan penjelasan kepada ibu mengenai apa yang sedang terjadi.
•     Bidan difokuskan pada aspek ilmu fisik dan biologis daripana ilmu social dan psikologis.


         8
•    Ruang bersalinnya juga sangat tidak ranmah dan dingin, menghadap koridor sehingga dapat dilihat oleh orang yang berlalulalang, toiletnya terbuka dan sangat tidakprivacy

3.3.     Kelebihan dan Kekurangan system pelayanan bidan di Negara Singapura
 Kelebihan pelayanan bidan di Negara singapura adalah :
•    Setiap bulan setelah, bidan akan mengambil tekanan darah untuk memeriksa toksemia
•    Bidan juga mampu memberikan kontrol yang membantu kelahiran
   Kekurangannya :
•    memaksa mayoritas warga negara untuk percaya dalam perawatan tanpa pelatihan formal
•    bidan yang belum terlatih berlari risiko gagal melihat tanda-tanda infeksi atau penyakit
•    mereka juga tidak terlatih dalam teknik melahirkan yang tepat
•    Tidak ada pendidikan tentang pentingnya sterilisasi dan kebersihan













                                                        9
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan yakni sejarah perkembangan di masing-masing negara jelas memiliki perbedaan. Baik itu dalam perkembangan pelayanan, maupun pendidikan kebidanannya.
Dengan demikian, uaraian-uraian di atas dapat dijadikan pembanding dan dapat kita tela’ah mengenai hal positif dan negatif dari perbedaan tersebut.
Namun , sesuai perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih setiap Negara di atas  pun ikut meningkatkan pelayanan kebidanan kearah yang lebih baik guna mencapai suatu hasil yang diinginkan oleh semua pihak yang pastinya hasil yang memuaskan dan membahagiakan. Hal tersebut dapat dibantu dengan segala teknologi kesehatan yang sudah maju sampai sekarang ini .













                                               10
DAFTAR PUSTAKA

http://mamah-alvito.blogspot.com/2009/01/sejarah-kebidanan.html
    http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/02/profesi-bidan-di-indonesia/
    http://www.bidanindonesia.org/index.asp?part=14?=en
    http://retter13megapixel.multiply.com/journal/item/25/Sejarah_Pendidikan...